d ambil dari facebook page Kehidupan di Jepang
sebuah pengingatbahwa kita negeri yg terjatuh moralnya bukan berarti tak memiliki moral.
negeri yg luntur budayanya bukan berarti tidak punya
bukan karena membanggakan negeri lain, tapi mengingatkan bahwa dahulu kita negeri yg berbudaya
sebuah rasa yg hilang yg dulu kita gadang-gadang
kita berjalan mencari budaya tak berarah melupakan milik sendiri dan iri terhadap milik orang
Tiada hari terlewatkan tanpa membaca surat kabar Indonesia melalui
Internet. Di sana-sini bermunculan berita mengenai rusaknya moral dan
carut marutnya kepribadian masyarakat Indonesia, layaknya sebuah bangsa
yang tidak terdidik. Dan kerusakan ini
secara signifikan dan menyeluruh melanda berbagai golongan masyarakat
Indonesia, dari pejabat atas, menengah sampai rendah, dari anggota DPR
sampai menular ke masyarakat umum. Kemudian kalau kita menyimak
berita-berita Internasional, sudah menjadi hal yang lazim, bahwa
Indonesia selalu memenangi kontes-kontes internasional yang berhubungan
dengan sifat buruk. Dari masalah besarnya jumlah korupsi, pelanggaran
HAM, Kekerasan menggunakan Air Keras,Pembunuhan,Perampokan,sampai
rendahnya masalah sumber daya Manusia(SDM),pelecehan terhadap
anak-anak.dan yang paling HOT saling menjelek-jelekan dan memojokan ke
dua capres dan cawapres kita dari masalah masa lalu,masalah HAM sampai
dibawa-bawa ke masalah SARA
Pada tulisan ini, saya mencoba
menguraikan tentang bagaimana sebuah komunitas terdidik (knowledged
community) dan beradab itu sebenarnya bisa terbentuk dari sesuatu hal
yang sangat sederhana.
Dari mengamati perilaku kehidupan
masyarakat Jepang, sebenarnya tergambar bagaimana sebuah komunitas
terdidik terlahir dari suatu sifat dan sikap yang sederhana. Yang
pertama mari kita lihat bagaimana orang Jepang mengedepankan rasa
“malu”. Fenomena “malu” yang telah mendarah daging dalam sikap dan
budaya masyarakat Jepang ternyata membawa implikasi yang sangat luas
dalam berbagai bidang kehidupan. Saya cermati bahwa di Jepang sebenarnya
banyak hal baik lain terbentuk dari sikap malu ini, termasuk didalamnya
masalah penghormatan terhadap HAM, masalah law enforcement, masalah
kebersihan moral aparat, dll.
Bagaimana masyarakat Jepang
bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu contoh nyata. Orang
Jepang lebih senang memilih memakai jalan memutar daripada mengganggu
pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya.
Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffic light menjadi
hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi.
Bagaimana mereka secara otomatis langsung membentuk antrian dalam setiap
keadaan yang membutuhkan, pembelian ticket kereta, masuk ke stadion
untuk nonton sepak bola, di halte bus, bahkan untuk memakai toilet umum
di stasiun-stasiun, mereka berjajar rapi menunggu giliran. Mereka malu
terhadap lingkungannya apabila mereka melanggar peraturan ataupun norma
yang sudah menjadi kesepakatan umum.
Hal menarik berikutnya
adalah bagaimana orang Jepang berprinsip sangat “ekonomis” dalam masalah
perbelanjaan rumah tangga. Sikap anti konsumerisme berlebihan ini
nampak dalam berbagai bidang kehidupan. Sekitar 2 tahun yang lalu, masa
awal-awal mulai kehidupan saya di Jepang, saya sempat terheran-heran
dengan banyaknya orang Jepang ramai belanja di supermarket pada sekitar
pukul 19:30. Selidik punya selidik, ternyata sudah menjadi hal yang
biasa bahwa supermarket di Jepang akan memotong harga sampai separuhnya
pada waktu sekitar setengah jam sebelum tutup. Seperti diketahui bahwa
Supermarket di Jepang rata-rata tutup pada pukul 20:00. Contoh lain
adalah para ibu rumah tangga yang rela naik sepeda menuju toko sayur
agak jauh dari rumah, hanya karena lebih murah 10 atau 20 yen. Juga
bagaimana orang Jepang lebih memilih naik densha (kereta listrik) swasta
daripada densha milik negeri, karena untuk daerah Nagoya dan sekitarnya
ternyata densha swasta lebih murah daripada milik negeri. Dan masih
banyak lagi contoh yang sangat menakjubkan dan membuktikan bahwa orang
Jepang itu sangat ekonomis.
Secara perekonomian mereka bukan
bangsa yang miskin karena boleh dikata sekarang memiliki peringkat GDP
yang sangat tinggi di dunia. Mereka juga bukan bangsa yang tidak sibuk
atau lebih punya waktu berhidup ekonomis, karena mereka bekerja dengan
sangat giat bahkan terkenal dengan bangsa yang gila kerja (workaholic).
Tetapi hebatnya mereka tetap memegang prinsip hidup ekonomis. Ini sangat
bertolak belakang dengan masyarakat negara-negara berkembang (Indonesia
salah satunya) yang bersifat sangat konsumtif. Terus terang kita memang
sangat malas untuk bersifat ekonomis. Baru dapat uang sedikit saja
sudah siap-siap pergi ke singapore untuk shopping, atau beli HP baru.
Sifat berikutnya adalah masalah “sopan santun dan menghormati orang
lain”. Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan
gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakkan orang
lain. Kalau kita berjalan tergesa-gesa dan menabrak orang Jepang,
sebelum kita sempat mengatakan maaf, orang Jepang dengan cepat akan
mengatakan maaf kepada kita. Demikian juga apabila kita bertabrakan
sepeda dengan mereka. Tidak peduli siapa yang sebenarnya pada pihak yang
salah, mereka akan secara refleks mengucapkan gomennasai (maaf).
Kalau moral dan sifat-sifat sederhana dari orang Jepang, seperti malu,
hidup ekonomis, menghormati orang lain sudah sangat jauh melebihi kita,
ditambah dengan majunya perekonomian dan sistem kehidupan. Sekarang
marilah kita bertanya kepada diri kita, hal baik apa yang kira-kira bisa
kita banggakan sebagai bangsa Indonesia kepada mereka ?
Bangsa
Indonesia bukan bangsa yang bodoh dan tidak mengerti moral. Kita bisa
menyaksikan bahwa mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang sedang belajar
Jepang, Jerman, Amerika dan di negara -negara lain, banyak sekali yang
berprestasi dan tidak kalah secara ilmu dan kepintaran. Demikian juga
kalau kita bandingkan bagaimana para pengamat dan komentator Indonesia
menguraiakan analisanya di televisi Indonesia. Selama hidup 2 tahun di
Jepang saya belum pernah menemukan analisa pengamat dan komentator di
televisi Jepang yang lebih hebat analisanya daripada pengamat dan
komentator Indonesia. Dan ini menyeluruh, dari masalah ekonomi, politik,
sistem pemerintahan bahkan sampai masalah sepak bola.
Akan
tetapi sangat disayangkan bahwa fakta menunjukkan, secara politik dan
sistem pemerintahan kita tidak lebih stabil daripada Jepang, secara
ekonomi kita masih dibawah Jepang. Dalam masalah sepakbola juga dalam
waktu singkat Jepang sudah berprestasi Pada perhelatan Piala Dunia,
sementara kita sendiri masih berputar-putar dengan permasalahan yang
tidak mutu, dari masalah wasit, pemain sampai kisruhnya suporter.
Mengambil pelajaran dari kasus yang telah saya uraikan diatas. Ternyata
kepintaran dan kepandaian otak kita adalah tidak cukup untuk membawa
kita menuju suatu komunitas yang terdidik. Justru sikap dan prinsip
hidup yang sebenarnya terlihat sederhana itulah akan secara silmultan
membentuk suatu bangsa menjadi bangsa besar dan berperadaban.
maaf bila kata-kata saya tidak berkenan
~Adi Aichi~
sumber https://www.facebook.com/KehidupanDiJepang/photos/a.197853263692489.62485.152795408198275/473273116150501/?type=1&theater
Kamis, 12 Juni 2014
Senin, 02 Juni 2014
Langganan:
Postingan (Atom)